Minggu, 17 April 2011

Jalan Kaki

Dari: Dr. Iftikar Z. Sutalaksana

Jalan kaki Pak..., baheula mah belum ada angkot. Kalau mau ke "kota" dengan angkutan umum, harus nyegat oplet di pertigaan Gerlong Hilir - Setiabudi yang datang dari Lembang menuju Stasion. Jadwalnya ? Kalau sekarang orang gerlong yang berdiri di sisi kiri Setiabudi (dari arah bawah) bisa di panggil-panggil kenek atau calo dari seberang jalan, "ngajak" untuk naik ke angkotnya. Ada beberapa angkot yang menunggunya. Dulu,  barangkali Lembang-Stasion itu sejam sekali, itupun tidak pasti.

Jadi jalan kaki Pak,melewati kebun dan sawah, dan melalui lorong-lorong antara rumpun bambu di kiri - kanan. Menyeberangi titian-titian bambu sungai-sungai Cijerokaso dan Citepus, dan kali-kali kecilnya. Juga melewati jalan-jalan setapak antar rumah-rumah bilik urang lembur di sana. Kalau melihat kandang domba (banyak domba adu) kami berhenti "menikmati" keindahan sang domba, tubuhnya yang gagah, tanduknya yang "baplang", kami lalu ramai saling mengomentari. Memang capek karena jauh dan kaki-kaki kami adalah kaki-kakinya anak kecil Sekolah Rakyat, tapi kan kalau ngabring dengan kawan-kawan mah jadi nggak kerasa. Resep we nu aya...., waktu itu. Sekarang, tinggal waas-nya.

1 komentar: